Covid 19: Narsisme Serta Popularitas mengesampingkan Ketegasan

Opini185 Dilihat

Oleh: Muh Reza Abubakar

Inspirator- Pandemi Covid-19 masih menjadi momok yang sangat besar bagi Manusia. Bahkan bisa dibilang Covid-19 adalah ujian yang nyata bagi para pemimpin, mulai dari pemimpin tingkat daerah, hingga para pemimpin negara. Ya, karena semua kebijakan terkait virus Corona memerlukan kesigapan dan kematangan langkah yang diambil oleh seorang pemimpin.

Virus Corona yang menyerang hampir seluruh negara ini merupakan ujian bagi seluruh pemimpin di seluruh tingkatan. Masyarakat akan menilai apa yang pemimpinnya kerjakan, bukan yang hanya dikatakan di media belaka.

Daripada sibuk pencintraan melalui sosial media atau konfrensi pers di berbagai stasiun televisi, alangkah lebih baiknya mempersiapkan kebijakan-kebijakan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat di tengah pandemi.

Hingga hari ini, kebanyakan dari para pemimpin, baik tingkat daerah maupun tingkat pusat malah condong mempertontonkan sifat narsisme di depan khalayak publik. Bahkan, beberapa diantaranya bahkan saling serang hanya untuk mencari pembenaran siapa yang paling populer.

Masyarakat seakan dibenturkan satu sama lain. Terbaru, bagaimana Menteri Keuangan secara terang-terangan menyindir Anies Baswedan. Atau, kejadian tempo hari, seorang Bupati mempertontonkan kemarahannya terhadap Menteri Sosial.

Selain saling serang, beberapa pemimpin di tingkat daerah justru mempertontonkan pelanggaran terhadap aturan yang dibuatnya sendiri hanya demi popularitas. Aturan Sosial Distancing dilanggar sendiri saat pembagian sembako di tengah kerumunan. Lucunya hal ini tidak hanya dilakukan oleh satu dua pemimpin, tapi di beberapa daerah.

Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang kuat, yakni pemimpin yang tegas dan asertif, dapat menggelorakan solidaritas sosial, dan dapat dipercaya publik. Tanpa hal tersebut, kita semua akan kewalahan menghadapi pandemi ini. Salah-salah kita akan terjebak pada krisis multidimensi.

Ketegasan merupakan modal utama dalam memimpin. Pemimpin yang hanya mengandalkan retorika politik akan melahirkan lipstik politik dan pencitraan diri, dan akan berakhir pada kebohongan dan penipuan terhadap masyarakat. (Opini)