Sejarah dan Asal-Usul Nama Samarinda, Kota Tepian Mahakam Saat Ini Berusia 357 Tahun

Samarinda316 Dilihat

INSPIRATORNEWS.COM SAMARINDA – KOTA Tepian itulah yang kerap disebutkan orang tentang Kota Samarinda. Namun tahukah kalian dengan Sejarah dan asal-usul nama Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur. Negeri Tepian Mahakam ini tercatat sebagai kota penduduk terbanyak di Pulau Kalimantan dengan total 825.494 jiwa berdasarkan sensus 2021.

Samarinda punya sejarah menarik. Berikut asal usul namanya.

Sejarah Samarinda

Melansir dari laman resmi Pemerintahan Kota Samarinda, sebelum dikenal dengan nama tersebut daerah ini termasuk dalam Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri pada 1300 Masehi.

Kerajaan yang merupakan daerah taklukan dari Kerajaan Banjar ini berada di Kutai Lama, hilir Sungai Mahakam arah tenggara Samarinda.

Kerajaan ini ada di era Kerajaan Majapahit (abad ke-14 sampai 15 Masehi). Mulanya, pusat Kerajaan Kutai Kartanegara di Kutai Lama ada di Jahitan Layar.

Lalu berpindah ke Tepian Batu pada 1635, seabad kemudian pindah lagi ke Pemarangan (Jembayan) pada 1732, barulah berpusat di Tenggarong sejak 1781 hingga 1960.

Penduduk yang mendiami Kalimantan bagian timur ini pada mulanya adalah Suku Kutai Kuno yang disebut Melanti termasuk ras Melayu Muda (deutro Melayu) sebagai hasil percampuran ras Mongoloid, Melayu, dan Wedoid yang migrasi dari Semenanjung Kra pada abad ke-2 Sebelum Masehi (SM).

Pada abad ke-13 Masehi (tahun 1201-1300) sebelum dikenal sebagai nama Samarinda, sudah ada perkampungan penduduk di enam lokasi. Yakni: Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan) dan Mangkupelas (Mangkupalas).

Enam kampung di atas tercantum dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 Hijriyah (24 Februari 1849 M).

Dikisahkan, pada 1565, terjadi migrasi suku Banjar dari Batang banyu ke daratan Kalimantan bagian timur. Kala itu, rombongan suku Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan merintis berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Belengkong) di daerah Paser.

Tak hanya itu, suku Banjar juga menyebar di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara, yang di dalamnya meliputi daerah yang kini disebut Samarinda.

Sementara itu, pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda dibawah Laksamana Speelman memimpin Angkatan Laut menyerang Makassar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian yang dikenal dengan “ PERJANJIAN BONGAJA “ pada tanggal 18 November 1667.

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kalimantan Timur untuk mengabdikan diri pada Kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Poa Ado yang pertama), kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Orang-orang Bugis Wajo yang bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi Kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor : 1 tahun 1988 Tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi “ Hari jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M bertepatan dengan Tanggal 5 Sya’ban 1078 H “. Penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi Kota Samarinda ke 320 pada Tanggal 21 Januari 1988.

Pembentukan Pemerintah Kota Samarinda didasarkan pada Undang – Undang Nomor 27 Tahun 1959. Berdasarkan PP 21 tahun 1987, Kota Samarinda terbagi menjadi 4 (empat) Kecamatan, Tahun 1997 dimekarkan menjadi 6 (enam) Kecamatan dan 53 (lima puluh tiga) Kelurahan dan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 02 Tahun 2010 dimekarkan kembali menjadi 10 (sepuluh) Kecamatan, dan berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2014 Kelurahan Dimekarkan Kembali menjadi 59 Kelurahan.

Asal-usul Nama Samarinda

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diperkirakan ada beberapa versi asal-usul nama Kota Samarinda namun yang terkenal ada empat. Di antaranya:

1. Dari Bahasa Banjar

Nama Kota Samarinda didapatkan dari Bahasa Banjar yang berasal dari dua kata “sama” dan rendah. Kata ini didasarkan persamaan ukuran tinggi Sungai Mahakam dengan daratan di tepiannya yang sama-sama rendah.

Masa dulu, setiap kali air pasang, kawasan tepian kota ini selalu tenggelam. Sementara itu, tepian Mahakam mengalami pengerukan/penimbunan berkali-kali hingga kini bertambah 2 meter dari ketinggian semula.

2. Dari Bahasa Melayu

Untuk versi Melayu, nama Samarinda juga berasal dari kata “sama” dan “rendah”. Dua kata ini didapatkan berdasarkan persamaan ukuran tinggi rumah-rumah rakit-terapung penduduk di Samarinda Seberang yang tak ada lebih tinggi antara satu dengan yang lain, yang juga bermakna tatanan kemasyarakatan yang egaliter.

3. Dari Sansekerta

Asal nama Kota Samarinda juga ada menurut versi Sansekerta. Nama kota ini diambil dari kata “Samarindo” yang memiliki arti salam sejahtera.

4. Tradisi Lisan Masyarakat Setempat

Versi lain didapatkan berdasarkan dari tradisi lisan masyarakat setempat bahwa nama Samarinda berasal dari Bahasa Melayu dari kata “samar” dan “indah”.

Nah itulah sejarah nama Kota Samarinda. Semoga bermanfaat.(rah)