Oleh: Irawan S
INSPIRATORNEWS.COM SAMARINDA – Pilgub Kaltim diikuti hanya dua paslon. Ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk membandingkan, kemudian memilih mana paslon yang dianggap paling siap membawa Kaltim kedepan lebih maju.
Dua pasang itu adalah Isran-Hadi dan Rudy-Seno. Lebih dari 70 persen masyarakat kenal dengan dua paslon ini. Baliho dan spanduknya ada dimana-mana. Juga keduanya ramai jadi perbincangan di medsos.
Siapa paslon yang layak dipilih oleh masyarakat Kaltim? Debat menjadi salah satu sarana masyarakat Kaltim mengenal lebih dekat terhadap dua paslon ini. Dalam debat, isi hati dan isi otak paslon dibongkar. “Isi hati” dibongkar melalui sikap dan cara paslon bicara. “Isi otak” dibongkar melalui ide, gagasan dan program yang disampaikan paslon dalam debat.
Pertama, kita bongkar dulu isi hati. Ini soal emosi dan etika. Di sesi pertama, nampak Isran sudah mulai menyerang paslon nomor satu. Isran mulai ngegas. Isran bilang: mau jadi gubernur? Sambil wajah menengok ke Rudy Mas’ud, paslon nomor dua. Isran juga menyindir dengan mengatakan: siapa nama cagub nomor dua itu? Sebuah kalimat yang dinilai oleh publik sebagai ucapan dan sikap nyinyir.
Nampak Rudy dan Seno meresponnya dengan senyum. Terlihat kalau kedua anak muda ini lebih siap secara emosional dan mental. Tidak reaktif. Kecuali hanya tersenyum. Mereka sepertinya sudah tahu Isran akan melakukan hal itu di dalam debat.
Tidak hanya Isran yang nampak emosional, Hadi Mulyadi, cawagub nomor dua juga kena mental ketika seorang penonton bereaksi terhadapnya saat bicara di podium. Hadi marah-marah dan menegur KPU. Ini dilakukan dua kali oleh Hadi.
Nampaknya, Hadi tidak juga siap dengan audiens yang sangat beragam. Hadi tidak sadar bahwa dalam setiap debat, baik itu Pilpres maupun Pilkada, selalu akan menghadapi audiens yang bermacam-macam, bahkan sangat riuh. Ternyata, terlihat Hadi memang tidak siap. Hadi terpancing emosinya.
Kedua, soal “isi otak”. Ini menyangkut gagasan dan program. Paslon nomor satu punya tagline kedaulatan. Tapi tidak ada satupun narasi tentang kedaulatan yang diungkap dalam visi, misi dan programnya. Justru, program kedaulatan malah dijelaskan lebih detail oleh Paslon nomor dua. Paslon nomor dua menjelaskan tentang kedaulatan energi dan ketahanan pangan melalui ekonomi hijau (pertanian, perkebunan dan peternakan) serta ekonomi biru (perikanan dan kelautan). Penjelasannya cukup detail dan clear.
Dalam debat pertama ini, Paslon nomor dua, Rudy-Seno nampak lebih siap dan lebih jelas terobosan idenya. Program-programnya lebih terukur dan bisa dipahami oleh masyarakat. Sementara Paslon nomor satu, gagasan keberlanjutan tidak clear dan tidak jelas ukuran keberlanjutannya.
Di sisi lain, Rudy-Seno, keduanya kompak dalam berbagi jawaban. Keduanya selalu maju bersama di podium, satu dengan yang lain saling melengkapi.
Rudy-Seno menjelaskan dua cluster program. yaitu program Gratispol dan Josspol. Ini terus diulang-ulang. Seperti ada pesan supaya masyarakat paham.
Program Gratispol punya tujuh item. Diantaranya sekolah sampai kuliah S3 Gratis. Juga berobat dan wifi gratis. Selain Gratispol, Rudy-Seno sampaikan juga program Josspol. Diantara program Josspol yang mereka sebut adalah bagaimana meningkatkan UMKM dan sektor usaha manufaktur. Menggenjot pertumbuhan ekonomi hijau dan ekonomi biru sebagai penyeimbang bisnis pertambangan yang tidak ramah lingkungan dan tidak padat karya.
Paslon nomor dua lebih fokus dalam menawarkan program bagaimana membangun usaha di Kaltim yang ramah lingkungan dan padat karya, sehingga ini akan mengurangi angka pengangguran dan otomatis juga mengurangi angka kemiskinan yang masih tinggi di Kaltim.
Dari debat pertama, memang perbedaan nampak jelas antara kedua paslon ini. Paslon nomor dua memang tampak lebih siap secara mental dan program dari pada paslon nomor satu.
Bagaimana debat kedua nanti? Kita tunggu saja. (Tim)





