INSPIRATORNEWS.COM, SAMARINDA – Sejumlah pengurus Perkhidmatan Rakyat Kalimantan Timur (PRKT) menyambangi Kantor DPRD Kaltim, Senin (27/1). Kedatangan mereka untuk menyampaikan 12 persoalan yang dialami masyarakat.
Ketua PRKT Muhammad Balfas Syam menjelaskan yang melatar belakangi berdirinya organisasi yang dipimpinnya tersebut dikarenakan keterpanggilan anak negeri untuk berbuat maksimal sesuai kemampuan yang dimiliki dalam membaktikan diri untuk Kaltim.
PRKT menurut dia berupaya memposisikan diri merekam apa yang menjadi keinginan
rakyat yang disampaikan secara santun kepada pemerintah provinsi dan DPRD
dengan harapan dapat ditindaklanjuti. “Etnis dan keyakinan apapun, apa
yang kau bisa berbuat bagi Kaltim maka lahirlah organisasi ini yang bertugas
membantu pemerintah dan DPRD dalam memberikan berbagai masukan untuk kemajuan
daerah,” kata Balfas didampingi Anggota Dewan Penasehat PRKT Khairul Fuad,
Sekretaris PRKT Hamsyi Djamhari dan lainnya.
Sekertaris PRKT Jamhari mengatakan sejumlah daftar inventarisasi 12 persoalan
yang disampaikan masyarakat, yakni pendangkalan atau normalisasi Sungai
Mahakam, bajir di Samarinda, Stadion Olahraga Palaran, Hotel Atlit Samarinda,
Stadion Olahraga Sempaja, dan Pembinaan Atlit. Selain itu Gedung Pemuda/KNPI
Kaltim, Penerbitan Perda dan Pergub, Student Center, Eks Bandara Temindung.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK menyampaikan apa yang
disampaikan PRKT merupakan representasi masyarakat Kaltim yang menginginkan
adanya perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Makmur mengakui bahwa sudah banyak perwakilan masyarakat yang menyampaikan
sejumlah persoalan mulai dari banjir, minimnya perhatian kepada petani dan
nelayan hingga persiapan Kaltim Ibu Kota Negara (IKN).
Kendati demikian, ia mengaku semua aspirasi ini akan disampaikan kepada
pemerintah provinsi agar bisa mendapatkan tindaklanjuti dan mendapatkan solusi
terbaik demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kaltim.
“Hendaknya juga disampaikan kepada Pak Gubernur agar ada kesepahaman
sehingga bisa bersatunya seluruh elemen daerah dalam rangka duduk satu meja
guna membahas penyelesaian berbagai persoalan dimaksud agar bisa
terlaksana,” sebut Makmur didampingi Andi Harun, Sigit Wibowo, Bagus
Susetyo, Muspandi dan Sekwan Muhammad Ramadhan.(hrd)
wilayah Republik Indonesia yang saat itu berkedudukan di Jogjakarta.
Peristiwa pertempuran Sanga-Sanga memakan cukup banyak korban jiwa dari kedua belah pihak, ratusan pejuang yang gugur pada waktu itu dikebumikan di salah satu bukit di Sanga-Sanga yang kemudian diresmikan sebagai Taman Makam Pahlawan “Wadah Batuah” pada tanggal 17 Agustus 1949.(hrd)









