“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa.merintih kalau ditekan ,tetapi menindas kalau berkuasa. mementingkan golongan, ormas, teman seidiologi, dan lain-lain .setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi” –
Soe Hok Gie
Bagi Max Weber Kaum muda atau kaum terpelajar yang akrab disebut mahasiswa menjadi potensi besar bagi sebuah bangsa. Beliau beranggapan bahwa peranan besar ideologi sebagai variabel independen hanya dapat dibawah kaum tersebut.
Sebagai basis massa dengan bekal disiplin ilmu yang beragam serta penyamaan frame dalam sebuah ideologi mampu melahirkan energi sebagai penunjang gerakan kolektif dari mahasiswa bagi stabilitas bangsa.
Karenanya, kampus bukanlah sekedar tempat pelatihan dan sekrup mesin industri. Tempat berlangsungnya doktrin untuk menggiring calon-calon penjilat menjadi partner kapitalis?.
“Aku berpikir tentang gerakan, tapi mana mungkin kalau diam?” kutipan puisi Widji Tukul 1989. Kutipan yang mengisyarakan sebuah perubahan dari sebuah gerakan, gerakan yang mampu menggetarkan hati orang-orang yang diam karena kehabisan narasi.
Siswa yang berlebel MAha bukan generasi tunduk, karena ia bukan budak apalagi pantas disebut robot. Karenanya perwujudan kedaulatan pada rakyat menjadi representatif dari setiap gerakannya.
Mimpi serta imajinasi mestinya selalu hadir sebagai spirit serta inovasi dalam tiap gerakannya yang bermantelkan pengetahuan dan keberanian.
Kemampuan menjawab tantangan serta laju gerak jaman,merupakan rangkaian dari tanya demi tanya olehnya, diharapkan selalu berusaha untuk mencari jawabannya.
Idealnya kampus demikian sebagai wadah “Candradimuka” yang mampu menempa generasi pelanjut menjadi inti besi sebagaimana yang di jelaskan dalam “Surah Al-Hadid”.
Anehnya kondisi tersebut diperburuk oleh mahasiswa sendiri, sebagai generasi “minum susu” yang mengharapkan peningkatan pada generasi pelanjut dengan ikhtiar yang tak lagi murni. Persis anak bayi yang lagi kehausan berharap ada sesuatu yang dapat dia hisap, untuk memenuhi ketamakan dahaganya.
Bagaimana tidak Warisan menyebalkan dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef yakni Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), menjadi lahan garapan yang empuk bagi penjilat tersebut walau dikebiri di atas meja kopi, agar berparas ideal sebagai mahasiswa.
Sebagai penerus Daoed Joesoef yang dikenal dengan kebijakan kontroveraialnya kebijakan melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum, maka penjilat semacam ini juga senang mengeluarkan kebijakan yang cenderung menekan untuk kepentingan kepribadi dan kelompoknya.
Takkala musim penerimaan mahasiswa baru tiba, kegiatan Ospek menjadi diskursus yang acap kali didengungkan secara blak-blakan atasnama menyelamatkan generasi penerus, walau sesungguhnya yang ia ingin selamatkan adalah eksistensinya agar terlepas dari kata lupa.
Walau popularitas itu fana sedang hal yang awet ialah penindasan. Maka bila musim ospek tiba, pemandangan tersebut secara nyata lumrah dibuat-buat. Maba seakan kerbau yg dicocol hidumnya lantas dapat diatur-atur, disuruh-suruh, atas nama pengenalan kampus. Senior yang mewujud menjadi panitia ospek merasa dirinya berwenang mendidik mahasiswa baru walau secara terang kelakuan penjilat semacam ini jauh dari predikat baik nan benar dengan predikat “Kaburamaktan”.
Tak sampai disitu generasi minum susu biasanya melanjutkan perbudakan sampai di depan pintu kos, dengan dalih mengajak diskusi sampai larut agar dapat predikat mahasiswa aktivis. maka rokok, kopi, bahkan tisu dikamar habis tak tersisah karena ketamakan.
Naasnya kali ini indonesia di rundung pandemi Covid-19, walhasil daerah yang disinyalir zona merah serta hitam, dihimbau untuk tidak melangsungkan aktivitas yang melibatkan banyak orang, namun apa lacur dijelaskan bagaimnapun penjilat yang senang tiasa kehausan akan selalu punya argumentasi untuk membenarkan ketamakannya, termasuk teriak-teriak persis bayi yang lagi kehausan berharap mendapatkan belas kasih.
Walau berharap belas kasih, namun yang di ikhtiarakan tanpa kasih karena mungkin telah asyik memadu kasih dengan harap polularitas agar isi tas dapat terisi.
Akhirnya, sebagai penton yang baik maka berilah tawa atas lawakannyq sebab ia telah memerankan lakon seapik mungkin, atas nama hidup mahasiswa. padahal yang sebenarnya ingin dihidupkan adalah kelompoknya.
Wallahu’alam bissawab.
Penulis : Ugha
Editor : Gunawan Hatmin







